Jumat, 09 Januari 2009

Palestina

Berbicara tentang Palestina rasanya tak pernah habis atau berujung, sudah habis kata-kata untuk membicarakan tentang konflik yang satu ini. Mulai dari obrolan warung kopi, diskusi dalam forum bahkan kata makian pun kita hampir tidak punya lagi untuk menggambarkan apa yang menimpa bangsa Palestina.
Rasa ibapun sudah tak bisa menggambarkan bagaimana kepedihan yang dialami Bangsa itu. Di bawah tekanan sebuah bangsa yang disebut Bani Israel, Yahudi atau Jewes yang menganggap tanah Palestina merupakan tanah “Yang Dijanjikan”.
Siapa yang menjanjikan tanah itu? Siapa yang memberi tanah Palestina? Apakah Amerika atau siapa?
Berbagai aksi demo dan kecaman mengutuk Israel seolah hanya jadi lagu saja bagi Israel.
Yang aku heran adalah PBB…! Apa perannya? Apa kegunaannya…
Kalau aku boleh bilang useless, tak ada kegunaan sama sekali
Dari sejarah Palestina kita ingat, generasi demi generasi mayoritas warga Palestina Muslim dan penduduk Palestina Kristen hidup berdampingan secara damai. Mereka mencintai tanah air yang sama, mereka memiliki cita-cita nasional yang sama pula. Keduanya sama-sama memimpikan kehidupan yang aman dan damai sebagai bangsa yang majemuk. Di tengah kejinya penindasan Israel, mereka sama-sama berjuang demi tanah air Palestina yang merdeka, yang adil dan makmur, yang terhormat di antara bangsa-bangsa lain di dunia.
Kita juga ingat, sejumlah orang Kristen Palestina telah menjadi figur-figur yang berdiri di garis depan perjuangan rakyat Palestina, entah itu di ranah politik, sosial, maupun budaya. Sebut saja, misalnya, Emil Habibi, George Habash, Azmi Bishara, dan Hanan Ashrawi yang adalah tokoh-tokoh penting dalam politik Palestina; Elia Suleiman dan Nay Abu-Assad, produser film terkemuka; Raja Shehadeh, penulis dan pakar hukum; atau Raymonda Tawil, aktivis politik yang notabene adalah ibu mertua almarhum Yasser Arafat. Dan, tentu saja Edward Said, intelektual dan aktivis politik Kristen keturunan Palestina yang mati-matian membela Palestina di dunia internasional. Bagi warga Palestina, dalam memandang satu sama lain, tampaknya yang utama bukan apa agama seseorang, tetapi sejauh mana komitmen orang itu bagi perjuangan bersama demi masa depan Palestina.
Ironisnya, justru karena banyak orang Kristen ada di garis depan perjuangan rakyat Palestina itulah Pemerintah Israel sejak 1948 berusaha keras agar orang-orang Kristen ini hengkang dari bumi Palestina dan bermukim di luar negeri saja. Israel sadar, orang-orang Kristen memiliki potensi besar menjadi penghubung perjuangan Palestina dengan dunia luar (ingat, seorang pembela Palestina yang paling konsisten di panggung internasional adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II). Karena itu, diam-diam pemerintah negara itu giat mendorong warga Kristen ini meninggalkan Palestina. Para pemimpin Israel tak keberatan jika dalam serangan kali ini banyak warga Kristen Palestina juga menjadi korban operasi militernya.
Rindu Sosok Hitler
Merenungkan nasib bangsa Israel, saya jadi teringat dengan sosok Adolf Hitler. Orang yang pada masa PD II dikecam habis-habisan karena “dianggap” melakukan genocida terhadap bangsa yahudi. Hitler beranggapan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat berbahaya dan sangat sombong dan menyebabkan terpuruknya ekonomi saat itu.
Lantas saya bertanya, apa mungkin lahir seorang Adolf Hitler yang baru..? Hahahaa, maaf loh kalau pikiran saya ini diangap bagaimana gitu…! Tapi jika kita melihat sepak terjang bangsa Israel, terkadang muncul pikiran-pikiran seperti itu. Bisa saja hal ini akan memunculkan paham NAZI di dunia. Bisa memunculkan sentiment-sentimen anti Israel yang sangat radikal. Sekarangpun ada, tapi tidak terlalu keras dan radikal.
Ehm… Bahaya sih, tapi itu mungkin salah satu jalan keluar dan jawaban bagi penyelesaian “Bani Israel “.