Saat ini media cetak lokal mendapatkan beberapa ancaman yang cukup serius. Jika dulu mereka mampu menguasai pasar koran lokal kini telah mengalami perubahan drastis. Mereka kini tidak bisa berharap banyak dengan keadaan sekarang. Semakin bebasnya iklim persaingan dalam usaha penerbitan koran, memicu invasi besar-besaran koran nasional ibukota ke daerah. Berbagai macam bentuk rubrikasi mereka tawarkan sesuai dengan budaya daerah itu sendiri.
Beberapa hal yang mengancam eksistensi koran lokal antara lain :
- Munculnya media nasional yang bukan hanya merebut pasar tetapi koran nasional kini juga mengusung muatan lokal (pengelola koran nasional mengadopsi asas proximity yang selama ini diandalkan koran lokal).
- Ancaman yang datang bukan hanya pada pendapatan berdasarkan jumlah oplah tetapi pada pendapatan iklan karena pengelola koran nasional menyediakan halaman iklan bagi pengiklan dari produk jasa maupun barang yang ada di daerah.
- Mulai maraknya koran-koran gratisan yang juga dapat mengancam koran-koran lokal (ancaman ini tidak terlalu signifikan karena free newspaper ini hanya bisa didapat oleh pembaca di pusat-pusat keramaian, seperti yang dilakukan oleh Bisnis Jakarta yang membagikan korannya di stasiun kereta api.). Selain itu juga, free newspaper ini hanya didapat di tempat-tempat tertentu.
- Turunnya harga jual koran nasional seperti yang dilakukan koran KOMPAS yang awalnya dijual Rp 2.500,00 menjadi Rp 1.000,00. Begitu pula koran TEMPO yang semula dijual Rp 1.500,00 menjadi Rp 1.000,00. Politik Dumping yang dilakukan oleh Koran Nasional paling besar dampaknya bagi Koran terbitan daerah. Misalnya, Kompas, dengan terbitan 40 halaman plus suplemen daerah did jual dengan harga hamper sama dengan Koran daerah. Modal memang menjadi kendala bagi penerbitan daerah . Koran terbitan Ibukota didukung dengan modal yang kuat dan besar. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah praktek dumping itu tidak melanggar UU no 5/1999 tentang Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat? Secara harfiah praktek dumping yang dilakukan penerbit-penerbit besar melanggar UU no 5/1999. Namun, jika para penerbit besar menerapkan harga sesuai dengan ongkos produksinya, katakanlah harga eceran koran sebesar Rp4.000,-, siapa yang mampu membelinya? Apakah koran hanya menjadi bacaan orang kaya saja, seperti majalah? Padahal kecenderungan global mengatakan bahwa nanti informasi itu gratis, artinya semakin murah koran dijual, semakin baik. Namun, kalau praktek dumping tetap dilakukan, maka sangat mustahil media cetak baru mampu bertahan hidup, kecuali yang bergabung dalam grup penerbitan, atau yang didukung oleh modal besar. Ini berarti, industri informasi hanya bisa dimasuki oleh para pemodal besar, atau dengan kata lain informasi dikuasai dan dikendalikan para kapitalis.
- Mulai merebaknya koran digital yang menggunakan format media on line yang menjadi sesuatu yang wajib diaplikasikan pengelola surat kabar masa kini. Sehingga pembaca dapat menerima informasi lebih cepat diaripada harus menuggu koran yang terbit esok harinya.
Prospek koran lokal :
- Loyalitas pembaca (pembaca tradisional) pada daerahnya yang membuat pembaca tidak bisa lepas dari ketergantungannya mengkonsumsi koran daerahnya.
- Adanya proximity (unsur kedekatan) yang selama ini diandalkan pengelola koran lokal lebih mengerti kebutuhan informasi di daerah.
- Jaringan distribusi yang lebih merata sampai ke pelosok daerah dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi koran lokal dibanding koran nasional.
- Tidak mudah mengalihkan perhatian masyarakat dari media lama kepada media baru tersebut, selain itu memerlukan waktu yang panjang. Untuk itu diperlukan modal yang sangat besar untuk menerbitkan sebuah media cetak baru sehingga layak bisnis. Sehingga Koran daerah sperti sudah mengakar pada pembaca tradisional
Ancaman yang muncul memaksa para pengelola koran lokal untuk berpikir agar terus memutar otak. Yang dapat dijadikan contoh adalah yang dilakukan oleh koran Pikiran Rakyat. Koran terbesar di Jawa Barat ini terus mengembangkan enam penerbitan yang dikelolanya, yakni Galamedia, Mitra Bisnis, Galura, Mitra Dialog (Cirebon), Priangan (Tasikmalaya), dan Fajar Banten.
Strategi lain yang dilakukan PR ialah dengan mengembangkan suplemen regular. Hingga kini koran ini menerbitkan 11 suplemen regular yang memiliki jadwal terbit yang teratur setiap pekannya. Tak cukup di situ, guna menggarap wilayah-wilayah potensial yang berdekatan dengan wilayah Jabodetabek, PR mengeluarkan suplemen khusus kawasan yakni Pakuan (Bogor, Cianjur dan Sukabumi) dan juga Purwasuka (Bekasi, Purwakarta, Karawang dan Subang).
Strategi lain adalah dengan menrbitkan “koran-koran kecil” di kota-kota yang terbilang potensial dari sisi pembaca maupun pengiklannya.
Distribusi koran yang makin masuk jauh ke pedalaman yang dilakukan para pelaku bisnis koran daerah. Sebagai pemain lama, mereka sudah paham betul titik-titik distribusi wilayahnya. Jangan kaget bila kini jaringan distribusinya (agen koran) sudah mampir hingga ke desa-desa.
Untuk menghadapi gempuran dari para pesaingnya baik di daerah maupun nasional, PK terus mengembangkan inovasi baru. Dari sisi isi, PR mempertebal halaman melalui beragam sisipan. Dalam seminggu kini PR menyisipkan 12 suplemen seperti Teropong, Selisik, Belia, Gelora, Cakrawala, Kampus Otokir, Khazanah, Geulis, Peer Kecil. Sementara duanya lagi, yakni Pakuan dan Purwasuka menjadi suplemen khusus yang melayani pembaca di kawasan Bogor dan sekitarnya (Pakuan) dan wilayah Pantura mulai dari Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang (Purwasuka). Dua suplemen terakhir ini diharapkan menjadi penopang PR di wilayah ini dalam menghadapi koran-koran kelompok media lain. Saat ini, koran daerah sulit untuk mengembangkan usahanya. Karena banyaknya invasi koran nasional ke daerah. Koran lokal hanya bisa bertahan. Semakin ketatnya persaingan di bidang penerbitan koran, tentunya membawa dampak positif dan negatif bagi. Karena itulah, diperlukan inovasi dan perubahan yang signifikan untuk mengantisipasi hal ini. Positif, artinya kita akan terpacu untuk menemukan inovasi – inovasi baru dan bagaimana menemukan sesuatu yang berbeda dari koran lain untuk disajikan kepada pembaca. Negatif, tentu saja berhubungan dengan penurunan jumlah oplah harian, karena banyak pelanggan yang keluar (baik tetap maupun eceran) yang beralih kepada koran pesaing.
Menerbitkan koran, bukan hanya kegiatan menulis berita, tetapi memerlukan manajemen terpadu yang meliputi pemasaran, keuangan, produksi, sumber daya manusia. Jika satu bidang manajemen itu tidak tergarap dengan baik, dapat dipastikan media cetak itu akan segera mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar